Pages

Tampilkan postingan dengan label Tokoh Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2015

Hafit, Bocah SD yang Kayuh Sampan 2 Jam Seberangi Lautan ke Sekolah

 
Sekolah merupakan tempat bagi anak-anak mendapatkan pengajaran tentang bagaimana mengenal diri sendiri, berguna bagi bangsa dan menjadi anak yang berguna. Demikian jugalah definisi sekolah yang menjadi tempat yang selalu dirindukan seorang anak dari pulau Alor. Demi ke sekolah, gelombang tinggi berani dihadangnya.

Abdul Hafit Minggele (10), usianya tidaklah sekecil nyalinya untuk melewati bentangan lautan demi menempuh pendidikan. Bagi Hafit, seolah adalah tempat yang menyenangkan, sekolah adalah tempat yang selalu dia inginkan.

Kesulitan transportasi tidak membuatnya terbatas. Tinggal di sebuah pulau kecil di Alor, NTT, Hafit adalah anak yang memiliki keberanian besar. Dia menerjang lautan dengan sampan kecilnya demi sampai ke sekolah yang berada di seberang pulau tempat dia tinggal.

"Saya ingin jadi polisi, iya, saya ingin jadi polisi," jelas Hafit saat ditanya perihal cita-citanya.

Demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang polisi, setiap hari dia harus menempuh perjalanan menuju sekolah selama dua jam di atas sampan. Jika gelombang laut bersahabat, dia hanya menempuh perjalanan selama satu jam. Namun, tak jarang, gelombang tinggi juga dihadangnya, sehingga dia harus berada di lautan selama dua jam. Tapi sekali lagi, dia tidak pernah mengeluh, apalagi menyerah.


Orang tua Hafit, Busara Minggele dan Umi Musa, berprofesi sebagai seorang nelayan. Kini Hafit duduk dibangku kelas 5 Sekolah Dasar Alor kecil.

Ke sekolah Hafit menggunakan sampan yang berukuran tak lebih dari satu setengah meter. Dengan sampan sederhana tersebut, dia mengayuhnya sendiri. Dia akan meletakkan tas dan bukunya di depan, sedang dia berada di belakang mengendalikan sampan. Jika gelombang besar, dirinya dan buku-bukunya bisa saja basah kuyup sebelum sampai ke sekolah.

Jarak pulaunya menuju sekolah memang memaksanya untuk mahir melawan derasnya gelombang Selat Mulut Kumbang. Jam 05.00 subuh Hafit sudah meninggalkan rumah dan menyeberangi lautan seorang diri. Jauh dan sulitnya akses pendidikan di daerahnya tidak menjadi halangan untuknya mendapatkan ilmu pengetahuan.

Menyeberang dengan sampan kecil menuju sekolah sudah dilakukan Hafit selama bertahun-tahun, sebab tidak ada akses jembatan ataupun jalan yang menghubungan kedua pulau. Sehingga jalan laut adalah satu-satunya moda transportasi yang dapat ditempuhnya.

Semangat Hafit ini merupakan inspirasi yang dapat dicontoh oleh seluruh anak Indonesia. Bahkan di tengah keterbatasan, masih ada anak-anak seperti Hafit yang dengan semangatnya untuk datang ke sekolah meskipun itu harus dengan sampan.

Sumber. brilio.net

Bocah SD Jualan Gorengan Demi Menghidupi Ibu dan Kakak, Salut!

 
Kamu tentu sering mendengar betapa banyak anak usia sekolah di negeri tercinta kita yang tidak bisa merasakan pendidikan. Perekonomian keluarga menjadi alasan sehingga mereka lebih mengutamakan bekerja dan memilih putus sekolah. Namun lain cerita dengan bocah kelas 4 SD di Bandung ini.

Dikabarkan pertama kali oleh akun Facebook Risa Saraswati pada 26 Mei lalu, seorang anak penjual gorengan keliling ketika mampir ke rumahnya terlihat terkantuk-kantuk. Setelah dikonfirmasi ternyata dia baru saja belajar karena esoknya akan ada ulangan di sekolah.

Berdasarkan obrolan Risa dengan sang bocah, kedua orangtuanya sudah tidak bersama lagi. Jadilah bocah ini menjajakan gorengan yang dibuat ibunya. Dia punya seorang kakak kelas 2 SMA. Namun karena kakaknya perempuan sehingga tinggal di rumah menemani ibunya. Jadilah dia yang harus berjualan sendiri malam-malam.

Ketika dihadiahi sweater oleh Risa sang anak malah berencana untuk menjualnya. "Teh, boleh dijual sweaternya?" tutur sang anak sambil makan mi instan pemberian Risa.

Ketika ditanya apakah dia tidak takut diculik karena pergi sendiri malam-malam, sang anak menjawab, "Gak papa Teh, nanti saya bilang sama tukang culiknya. Sok, culik saya! Tapi tukang culiknya harus ngasih ibu saya uang. Biar ibu gak ke Arab lagi menjadi TKI," tuturnya.

Salut untuk perjuangannya! Menafkahi ibu dan kakaknya tanpa meninggalkan sekolah.

Anis Rahmatillah, Bocah Difabel Juara Olimpiade Sains Nasional

 
Keterbatasan memang bukan penghalang untuk mencapai prestasi yang membanggakan. Setidaknya itulah yang sudah dibuktikan oleh Anis Rahmatillah (11), siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul, Yogyakarta yang menyabet juara satu dalam Olimpiade Sains Nasional.

Anis merupakan salah satu siswi SD yang dikirim sebagai kontingen Yogyakarta yang berlaga di Olimpiade Sains Nasional 2014 yang diselenggarakan di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Anis berhasil mengalahkan puluhan siswa SD lainnya dalam studi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Anis berhasil memukau semua juri saat itu karena keterbatasannya tidak menghalangi prestasinya. Ya, Anis memang sudah sejak lahir didiagnosa menderita kelainan tulang pada kedua tangannya dan menyebabkan kedua tangannya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sejak kecil itulah Anis sudah berlatih untuk melakukan segala hal dengan kedua kakinya. "Awalnya dari hal-hal kecil kayak memegang barang. Terus lanjut belajar makan, belajar nulis dan lain-lain," ujar Anis.

Tidak sampai di situ saja, kini Anis pun telah mahir menggunakan laptop bahkan gemar menulis blog. Dalam blognya dia sering menuliskan kisah-kisahnya yang ditujukan untuk memotivasi anak-anak difabel lainnya. "Di blog saya, saya ceritakan pengalaman saya ketika ikut OSN juga banyak cerita tentang kehidupan pribadi saya," kata gadis yang baru lulus SD tersebut.

Berbicara tentang lulus SD, Anis juga ikut mengerjakan Ujian Nasional layaknya siswa SD pada umumnya tanpa ada keistimewaan apapun. Menggunakan kedua kakinya Anis dengan lihai membuka lembaran-lembaran soal dan menjawabnya. Anis menuturkan caranya dengan menjepitkan pensil pada sela-sela antara jempol dan ibu jari kakinya.

"Untuk teman-teman di luar sana, jangan pernah patah semangat. Kita jangan pernah mau dikasihani, kita hanya perlu diberikan kesempatan untuk membuktikan kalau ternyata itu bisa," tandasnya.